
Nur Dari Timur
Oktober 21, 2008Hai… cobalah renungkan artikel indah dari seorang Gede Prama berikut,… benar2 indah,
Oleh: Gede Prama
Kompas, Sabtu, 18 Oktober 2008
Ia yang pernah hidup di Barat tahu kalau berbicara itu amat penting.
Dibandingkan kehidupan di Timur, lebih banyak hal di Barat yang
diekspresikan dengan kata-kata.
Fight, argue, dan complain, itulah ciri-ciri manusia yang disebut
“hidup” di Barat. Tanpa perlawanan, tanpa adu argumentasi, orang
dianggap “tidak hidup” di Barat. Intinya, melawan itu kuat, diam itu
lemah, melawan itu cerdas, dan pasrah itu tolol.
Dengan latar belakang berbeda, pola hidup ala Barat ini menyebar cepat
melalui televisi, internet, radio, media, dan lainnya. Dengan bungkus
seksi demokrasi, hak asasi manusia, semua dibawa ke Timur sehingga
dalam banyak keadaan (angka bunuh diri naik di Jepang, Thailand
mengalami guncangan politik, Pakistan ditandai pembunuhan politik),
banyak manusia di Timur mengalami kebingungan roh Timur dengan baju Barat.
Perhatikan kehidupan desa sebagai barometer. Tanpa banyak berdebat
siapa yang akan menjadi presiden, ke mana arah masa depan, partai apa
yang akan menang. Di desa yang banyak burungnya, tetapi manusianya
banyak menonton televisi (sebagai catatan, realita di desa amat
sederhana, tontonan di televisi amat menggoda), tema hidup setiap pagi
adalah “burung menyanyi, manusia mencaci”.
Berhenti melawan
Bayangkan seseorang yang tidak bisa berenang lalu tercemplung ke
sungai yang dalam. Pertama-tama ia melawan. Setelah itu tubuhnya
tenggelam. Karena tidak bisa bernapas, meninggallah ia. Anehnya,
setelah meninggal tubuhnya mengapung di permukaan air. Dan alasan
utama mengapa tubuh manusia meninggal kemudian mengapung karena ia
berhenti melawan.
Ini memberi inspirasi, mengapa banyak manusia tenggelam (baca: stres,
depresi, banyak penyakit, konflik, perang) karena terus melawan. Yang
menjadi guru mau jadi kepala sekolah. Orang biasa mau jadi presiden.
Pegawai mau cepat kaya seperti pengusaha. Intinya, menolak kehidupan
hari ini agar diganti kehidupan yang lebih ideal kemudian. Tidak ada
yang melarang seseorang jadi presiden atau pengusaha, hanya alam
mengajarkan, semua ada sifat alaminya Seperti burung sifat alaminya
terbang, serigala berlari, dan ikan berenang.
Suatu hari konon binatang iri dengan manusia karena memiliki sekolah.
Tak mau kalah, lalu didirikan sekolah berenang dengan gurunya ikan,
sekolah terbang gurunya burung, sekolah berlari gurunya serigala.
Setelah mencoba bertahun-tahun semua binatang kelelahan. Di puncak
kelelahan, baru sadar kalau masing-masing memiliki sifat alami. Dalam
bahasa tetua di Jawa, puncak pencaharian bertemu saat seseorang mulai
tahu diri.
Meditasi tanpa perlawanan
Nyaris semua manusia begitu berhadapan dengan persoalan, penderitaan
langsung bereaksi mau menyingkirkannya. Bosan lalu cari makan. Jenuh
kemudian cari hiburan. Sakit lalu buru-buru mau melenyapkannya dengan
obat. Inilah bentuk nyata dari hidup yang melawan sehingga berlaku
rumus sejumlah psikolog what you resist persist. Apa saja yang dilawan
akan bertahan. Ini yang menerangkan mengapa sejumlah kehidupan tidak
pernah keluar dari terowongan kegelapan karena terus melawan.
Berbeda dengan hidup kebanyakan orang yang penuh perlawanan, di jalan
meditasi manusia diajari agar tidak melawan. Mengenali tanpa
mengadili. Melihat tanpa mengotak-ngotakkan. Mendengar tanpa
menghakimi. Bosan, sakit, sehat, senang, dan sedih semua dicoba
dikenali tanpa diadili. Ia yang rajin berlatih mengenali tanpa
mengadili, suatu hari akan mengerti.
Dalam bahasa Inggris, mengerti berarti understanding, bila dibalik
menjadi standing under. Seperti kaki meja, kendati berat menahan, ia
akan berdiri tegak menahan meja. Demikian juga dengan meditator.
Persoalan tidak buru-buru dienyahkan, penderitaan tidak cepat disebut
sebagai hukuman, tetapi dengan tekun ditahan, dikenali, dan
dipelajari. Setelah itu terbuka rahasianya, ternyata keakuan adalah
akar semua penderitaan. Semakin besar keakuan semakin besar
penderitaan, semakin kecil keakuan semakin kecil persoalan. Keakuan
ini yang suka melawan.
Indahnya, sebagaimana dialami banyak meditation master, saat
permasalahan, penderitaan sering dimengerti dalam-dalam sampai ke
akar-akarnya, diterangi dengan cahaya kesadaran melalui praktik
meditasi, ia lalu lenyap. Ini mungkin penyebab mengapa Charlotte
JokoBeck dalam Nothing Special menulis, “Sitting is not about being
blissful or happy. It’s about finally seeing that there is no real
difference between listening to a dove and listening to somebody
criticizing us”. Inilah berkah spiritual meditasi. Tidak ada perbedaan
antara mendengar merpati bernyanyi dan mendengar orang mencaci.
Keduanya hanya didengar. Yang bagus tak menimbulkan kesombongan. Yang
jelek tak menjadi bahan kemarahan. Pujian berhenti menjadi hulunya
kecongkakan. Makian berhenti menjadi ibunya permusuhan.
Saat melihat hanya melihat. Ketika mendengar hanya mendengar. Perasaan
suka-tidak suka berhenti menyabotase kejernihan dan kedamaian.
Meminjam lirik lagu Bob Marley dalam Three little birds: don’t worry
about the things, every single thing would be allright. Tidak usah
khawatir, semua sudah, sedang, dan akan berjalan baik. Burung tak
sekolah, tak mengenal kecerdasan, tetapi terhidupi rapi oleh alam,
apalagi manusia. Inilah meditasi tanpa perlawanan. Paham melalui
praktik (bukan dengan intelek) jika keakuan akar kesengsaraan. Begitu
kegelapan keakuan diterangi kesadaran, ia lenyap. Tidak ada yang perlu
dilawan.
Seorang guru yang telah sampai di sini berbisik: the opposite of
injustice is not justice, but compassion. Selama ketidakadilan
bertempur dengan keadilan, selama itu juga kehidupan mengalami
keruntuhan. Hanya saling mengasihi yang bisa mengakhiri keruntuhan.
Sejumlah sahabat di Barat yang sudah membadankan kesempurnaan meditasi
seperti ini kerap menyebut ini dengan Nur dari Timur. Cahaya penerang
dari Timur di tengah pekatnya kegelapan kemarahan, kebencian,
ketidakpuasan, dan kebodohan. Seperti listrik bercahaya karena
memadukan positif-negatif, meditasi hanya perpaduan
kesadaran-kelembuta n, membuat batin bisa menerangi diri sendiri.




kok gk diupdate, males kaliyaaa
Hehehe… tau aja mas Syarief ni… emang lagi ga pny ide neh… buat nulis… :S