Sepotong Kue
Januari 4, 2008 oleh mirws
Pertama kali menerima file PowerPoint ini bertepatan sekali dengan berbagai masalah yang sedang mendera saya. Mulai dari masalah pekerjaan hingga masalah-masalah di kegiatan sosial yang saya ikuti. Kadang sempat terpikir, memang kehidupan saya sering kali dihampiri situasi yang “pas-pas”-an. Pas kantong lagi kosong lha kok ada yang ngasi “job” sampingan buat ngisi perut ini, pas dirundung berbagai masalah ya pas juga nerima email yang isinya pesan-pesan yang begitu menggugah hati hingga dapat bangkit lagi dari keterpurukkan. Nah, sebagai rasa terimakasih kepada orang-orang yang secara tidak sengaja ataupun sengaja mengirim sebuah email yang isinya begitu sarat makna itu, kali ini saya akan menyampaikan isi dari email itu dengan cara saya sendiri.
Mungkin suatu ketika kita merenung dan bertanya pada diri ini, apa saja yang telah kita lakukan sehingga kita menerima semua “bencana” dalam kehidupan ini. Dan karena begitu kalutnya, dan sulitnya permasalahan yang dihadapi, kitapun mencari kambing hitam sebagai penyebabnya, demikian parahnya sehingga kita menyalahkan Tuhan yang telah membiarkan semua ini terjadi pada kita. Sudah benarkah yang kita lakukan? Atau adilkah tindakkan kita bagi mereka yang menjadi kambing hitam? Apa penjelasan bagi ini semua?
Ada sebuah kisah tentang anak perempuan yang bercerita kepada ibunya tentang segalah hal yang terjadi padanya, mulai dari hasil-hasil ujian matematikanya yang buruk, hingga masalah pacarnya yang memutuskan hubungan mereka dan pergi mengencani perempuan yang tidak lain adalah sahabat terdekatnya.
Dalam suasana yang begitu sedih, seorang ibu yang baik mengerti cara terbaik untuk membuat anaknya kembali ceria…”Aku akan membuatkan kue yang enak untukmu”, katanya kemudian sambil memeluk sang anak dan sesaat berikutnya iapun pergi ke dapur setelah melihat wajah penuh senyuman mulai tampak pada anaknya.
Sembari sang ibu mempersiapkan peralatan memasak dan bahan-bahannya, anak perempuannya duduk di sudut dapur memperhatikan sang ibu. Ia kemudian bertanya, “Sayangku, apakah kau ingat kue yang kita buat bulan lalu? Apakah kau menyukainya?”, anaknya pun menjawab, “Tentu saja ibu, aku sangat menyukainya…apakah kita akan membuatnya lagi?”
“Benar! Kalau begitu sekarang coba kamu minum minyak kelapa ini…”. Terkejut, anak itu pun berujar, “Haaa…. Masa saya meminum minyak itu? Nggak mau!”. Ibunya melanjutkan, “Lalu bagaimana dengan beberapa telur mentah ini,… kamu mau memakannya…?”. Tentu saja si anak semakin heran, “Ibu bercanda ya…?”.
“Kalau sedikit tepung ini…?”, ibunya tetap melanjutkan. “Bu, apa ibu ingin saya sakit??”. Sambil tersenyum ibunya menjelaskan, “Semua bahan-bahan kue ini belum dimasak dan rasanya tidak akan enak jika kita makan, tapi setelah semua ini dipadukan menjadi sebuah adonan, dan dimasak, maka rasanya akan menjadi enak…”
Demikian pula dengan cara Tuhan bekerja. Ketika kita bertanya pada diri kita, mengapa hal-hal buruk menimpa kita, kita tidak pernah tahu dan mengerti apa atau kemana semua ini akan membawa diri kita. Hanya Dia-lah yang mengetahui dan Dia tak akan membuat kita jatuh. Kita tidak perlu menggenggam “bahan-bahan mentah” ini terlalu lama, percayalah kepadaNya dan lihatlah sesuatu yang menakjubkan akan terjadi.

Tuhan begitu mencintai kita, lihatlah! Dia selalu mengirimi kita bunga di musim semi. Dia membuat matahari terbit di setiap pagi. Dan disetiap waktu kita hendak berbicara padanya, ia selalu bersedia mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia bisa berada dimana saja di jagad ini, tapi Ia memilih tinggal tepat disini, di hati kita.
hai fren…
pa kabar neee
halo khema, kabar baek…
bgm kabarmu?
senang sekali mengenal mas dan tulisan-tulisannya
terutama yg kue ini.. wah bener-bener dalem ya ..
jadi nyadar..