Arsip untuk Desember, 2007

h1

Bayang semu

Desember 18, 2007

Bhikkhu Yang Memandang Tubuh
Sebagai Suatu Bayangan

Pada suatu kesempatan, setelah belajar bermeditasi dari Sang Buddha, seorang bhikkhu segera pergi ke hutan. Meskipun ia telah berusaha dengan keras, dia hanya mendapat kemajuan yang kecil dalam latihan meditasinya; sehingga ia memutuskan untuk kembali menemui Sang Buddha untuk belajar lebih jauh.

Dalam perjalanan pulang, dia melihat sebuah bayangan, dimana hanya merupakan penampakan semu dari air. Segera ia menyadari bahwa tubuh ini juga semu seperti bayangan. Dengan tetap memelihara pikiran tersebut, dia kembali ke muara sungai Aciravati. Ketika ia sedang duduk di bawah pohon dekat sungai, melihat ombak yang pecah, ia menyadari bahwa tubuh ini tidak kekal.

Kemudian Sang Buddha menampakkan diri dan berkata kepadanya: “Anak-Ku, apa yang kamu telah sadari bahwa tubuh tidak kekal seperti halnya busa, dan semu seperti halnya sebuah bayangan.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 46 berikut:

Setelah mengetahui bahwa,
tubuh ini bagaikan busa,
dan setelah menyadari sifat mayanya,
maka hendaknya seseorang mematahkan bunga nafsu keinginan,
dan menghilang dari pandangan raja kematian.

Bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

h1

Tiris: Ranu Agung & Segaran

Desember 11, 2007

Perjalanan kali ini sebenarnya tidaklah terencana dengan baik, tujuan semula adalah pantai Tampora, sekitar 3km sebelah Timur PLTU Paiton, sebuah pantai di pinggir perbukitan. Namun sayang, apa yang kami dapatkan tidaklah seperti yang kami harapkan. Lereng perbukitan di pinggir pantai itu terlihat begitu gersang dan kotor sehingga kami tak berlama-lama di sana.

Mendadak rekan saya, mengusulkan melanjutkan perjalanan liburan kali ini menuju Tiris. Selain karena waktu masih pagi dan cuaca cukup cerah maka kami pun berangkat menuju Tiris.

Menelusuri jalan pedesaan yang kecil, pinggiran kali “bokong”, julukkan yang diberikan oleh “OB” untuk kali yang sepanjang harinya selalu digunakan oleh masyarakat setempat sebagai sarana MCK. Dan akhirnya menembus jalanan perkebunan di perbukitan.

Jalanan yang dilalui kini semakin menanjak, walau telah bersusah payah menarik habis gas sepeda motor, akhirnya kami pun tiba di Ranu Agung. Masih sangat alami sekali, sebagian dari danau ini dibatasi oleh lereng cadas dan sebagian lainnya berupa dataran. Namun sayang kami tak bisa turun ke bawah karena tidak menemukan tempat penitipan kendaraan bermotor, sedangkan dari sini rumah penduduk terdekat berjarak sekitar 1 Km, sehingga kami memutuskan untuk menikmati pemandangan dari atas saja.

agung.jpg

Ranu Agung

Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Ranu Segaran, yang letaknya sekitar 5km dari Ranu Agung.

segaran.jpg

Ranu Segaran


Tidak seperti Ranu Agung, Ranu Segaran telah menjadi tempat wisata yang populer bagi masyarakat sekitar. Pada kali kedua kedatangan saya di sana, banyak perubahan yang terjadi, kini kami mesti merogoh kantong dua ribu rupiah per orang ketika memasuki kawasan ini, selain itu terdapat tempat-tempat berteduh dan transportasi hiburan untuk menikmati keindahan danau ini dari tengah.

Yach, semoga saja, perkembangan tempat-tempat wisata ini memberikan dampak yang positif buat masyarakat disekitarnya :)