h1

Pelarian Seorang Pembunuh

November 7, 2007

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian
Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya
ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan
berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang
mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang
muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala
sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang
sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas,
salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar
seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang
orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya
teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu.
Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya,
juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di
tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan
dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat
kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh?
Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum
genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di
daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu.
Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang ‘keamanan’ yang
begitu tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok
harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal
preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang
membunuh ayahnya.

“siapa yang bunuh ayah saya!” teriaknya kepada orang yang ada di
tempat itu.

“Gue terus kenapa?” ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil
disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau
ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan
besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke
rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia
digelandang ke kantor polisi.

“Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!” ujar kepala lapas
yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata
sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan
diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan
siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh
mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke
dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil
keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah
membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu
wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi
bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap
benda keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua
kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa
karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya.
Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak
seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk
arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang
ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah
solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya
di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat,
Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan
untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas,
karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini.
Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi
pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya
bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk
Arif.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih
berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari
rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya
untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia
menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian
kilometer dengan satu tujuan, pulang!

Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang
juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera
menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas
sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.

Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya
singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak
lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus
dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang.
Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat
menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif)
pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di
tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna
untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur
miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor
kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan!

5 komentar

  1. Tulisannya menarik sekali, tak ada yang dapat dilakukan Arif selain yang telah ia lakukan. He got to do what he got to do.

    Salam kenal


  2. Menyedihkan.., tapi itulah ‘keadilan’ yg nampak di dunia. Mungkin ada keadilan lain yg blm mampu kita lihat dg 2 mata kita..


  3. Keadilan yg kita miliki hanyalah “Keadilan” yang relative semata…


  4. aku jadi speechless mas, tapi begitulah “keadilan”
    si arif ditahan di LP anak-akan kan? dia ditahan untuk berapa lama? padahal dia salah satu calon penerus bangsa yang cerdas, tapi sudah menjalani kehidupan yang “berat” untuk ukuran anak seumur dia.
    Kapan ya keadilan di negeri ini bisa ditegakkan?

    *dengan wajah merenung*


  5. ya, semestinya di LP anak,…
    kapan ya keadilan di negeri ini bisa ditegakkan????
    wah kayaknya kita perlu tanya ke pembesar2 kita neh…

    hmm…. *dengan wajah merenung* ????
    dek, kayaknya photomu gayanya selalu merenung deh…!!? (bcanda…. :) )



Tinggalkan sebuah Komentar