Arsip untuk November, 2007

h1

Kemarahan

November 29, 2007

Pada seseorang yang diliputi kemarahan, ada tujuh
kondisi yang dapat menyebabkan kemenangan bagi
musuhnya. Apakah ketujuh kondisi itu?

Pertama, ambillah contoh seseorang yang mengharapkan
lawannya, “Aku berharap musuhku berpenampilan buruk.”
Mengapa? Karena orang tersebut tidak suka dengan
penampilan baik musuhnya. Ia, karena diliputi dan
dikuasai oleh kemarahan, walaupun mandi, memakai
parfum, berpotongan rambut dan jenggot yang menawan,
serta berpakaian yang pantas, tetap akan berpenampilan
buruk karena kemarahannya.

Kedua, ambillah contoh seseorang yang mengharapkan
lawannya, “Aku berharap musuhku tidak dapat tidur
dengan nyenyak.” Mengapa? Karena orang tersebut tidak
suka lawannya dapat tidur nyenyak. Ia, karena telah
diliputi dan dikuasai oleh kemarahan, walaupun
berbaring di atas tempat tidur yang empuk, berselimut
putih yang indah dan bersulam bunga, beralaskan kulit
rusa yang lembut, dengan kelambu di atasnya dan bantal
merah pada setiap sisinya, tetap tidak akan dapat
tidur dengan nyenyak karena kemarahannya.

Ketiga, ambillah contoh seseorang yang mengharapkan
lawannya, “Aku berharap musuhku tidak berkecukupan.”
Mengapa? Karena orang tersebut tidak suka lawannya
hidup berkecukupan. Ia, karena telah diliputi dan
dikuasai oleh kemarahan, mengira kerugiannya sebagai
keuntungan, dan keuntungannya sebagai kerugian, karena
ia selalu diliputi kemarahan.

Keempat, ambillah contoh seseorang yang mengharapkan
lawannya, “Aku berharap musuhku menjadi miskin.”
Mengapa? Karena orang tersebut tidak suka lawannya
memiliki kekayaan. Ia, karena telah diliputi dan
dikuasai oleh kemarahan, walaupun memiliki harta
kekayaan apa pun yang didapat dengan bekerja keras,
melalui kekuatan dan cucuran keringatnya sendiri
secara halal, tetap saja pemerintah akan menyita
hartanya karena ia selalu diliputi oleh kemarahan.

Kelima, ambillah contoh seseorang yang mengharapkan
lawannya, “Aku berharap musuhku tidak memiliki
kemasyhuran.” Mengapa? Karena orang tersebut tidak
suka lawannya menjadi termasyhur. Ia, karena telah
diliputi dan dikuasai oleh kemarahan, walau memiliki
kemasyhuran apa pun, tetap akan dilupakan orang karena
ia selalu diliputi oleh kemarahan.

Keenam, ambillah contoh seseorang yang mengharapkan
lawannya, “Aku berharap musuhku tidak mempunyai
kawan.” Mengapa? Karena orang tersebut tidak suka
lawannya berkawan dengan orang banyak. Ia, karena
telah diliputi dan dikuasai oleh kemarahan, siapa pun
kawan, sahabat dan sanak saudara yang ia miliki, semua
akan menghindar dan menjauhinya karena ia selalu
diliputi oleh kemarahan.

Terakhir, ambillah contoh seseorang yang mengharapkan
lawannya, “Aku berharap musuhku terlahir di alam
neraka.” Mengapa? Karena orang tersebut tidak suka
lawannya terlahir di alam surga. Ia, karena telah
diliputi dan dikuasai oleh kemarahan, akan melakukan
perbuatan salah, baik dengan badan jasmani, ucapan
maupun pikiran, sehingga dirinya sendirilah yang akan
terlahir di alam neraka.
Inilah tujuh kondisi pada seseorang yang diliputi
kemarahan yang akan menyebabkan kemenangan bagi
musuhnya.

ANGUTTARA NIKAYA

h1

Sesal

November 27, 2007

Tersebutlah seorang tua yang sudah di ujung usianya, menunggu datangnya maut menjemput.

Dia teringat kembali sewaktu masih anak-anak. Saat itu dia ingin bisa mengubah dan mengatur dunia.

Begitu menginjak remaja, dia berpikir ulang bahwa ternyata mengatur dunia itu sangat sulit karena begitu banyak negara, begitu luas dan begitu beraneka ragam penduduk setiap negara. ”Ah …. jauh lebih mudah mengatur satu negara saja”, gumannya.

Dengan bertambah usianya menjadi dewasa, dia menyadari bahwa mengatur dan memiliki kekuasaan dalam satu negara juga tidak mudah. Banyak kompleksitas yang harus dihadapi. Berbagai suku dan agama, masalah ekonomi, politik, keamanan dan lain-lainnya akan menuntut banyak perhatian darinya. Akan melelahkan segala sesuatu bagi dirinya. ”Wah … kalo demikian, cukuplah bagiku mengatur lingkungan masyarakat saja”, demikian pikirnya.

Namun seiring dengan bertambahnya usia menjadi tua, dia kembali merasa bahwa lingkup satu lingkungan masyarakatpun terdiri dari banyak rumah dan keluarga sehingga cukup ruwet untuk mengatur dan mengubahnya. Oleh karena itu kemudian dia berpikir bahwa keluarganyalah yang seharusnya mematuhi apa yang dikatakan dan diinginkannya. Keluarga memiliki kaitan langsung dengan dirinya sehingga dia mempunyai kekuasaan (power) untuk membuat pasangan dan anggota keluarga mematuhinya.

Tetapi sekarang dimana dia sudah sangat tua dan di ujung kehidupannya, dia seakan tersadar bahwa jikalau dari dulu, semenjak masih anak-anak sampai menjadi remaja, dewasa, dan tua, bukannya mengatur dan mengharapkan orang lain yang berubah, tetapi dialah yang mulai mengatur dan merubah dirinya sendiri, dengan cara mempraktekkan hal-hal baik dan menghindari hal-hal tidak baik sebanyak mungkin, maka tidak akan ada penyesalan di usia senjanya.

Jangan berpikir mengubah keluarga, orang lain, dan lingkungan sebelum kita memastikan bahwa kita telah mengubah diri sendiri dan menjadi contoh yang baik dengan mempraktekkan hal-hal baik dan menghindari hal-hal yang tidak baik terlebih dahulu.

Selamat menjadi ’manusia baru’ mulai dari sekarang sehingga bisa terhindar dari sesal di usia senja.

h1

Ramalan Ajahn Chah

November 20, 2007

By. B. Brahmavamso

Pernah seorang bisnis kaya raya berkunjung ke guruku Ajahn Chah di Thailand. Dia memohon ada Ajahn Chah utk meramalkan nasibnya. Sebagai bhikkhu yang patuh pada peraturan Sang Buddha, tentu saja Ajahn Chah tidak boleh meramalkan nasib siapapun. Dengan tegas, Ajahn Chah menolak permintaannya.
Tetapi orang ini bersikeras, dia berkata, ” Ajahn Chah, saya tahu kamu sangat patuh pada peraturanmu, maka itu ramalanmu pasti sangat tepat. Buatlah pengecualian padaku, karena saya elalu membantu vihara ini. Kamu juga tahu dana yang saya kasih pada vihara mu ini paling esar dibandingkan yang lainnya. Anggaplah ini sebagai tanda terima kasih kamu padaku.”
Ajahn Chah tersenyum dan berkata, ” Baiklah kalau itu kehendakmu.”
Kemudian dengan hati-hati Ajahn Chah mengamati telapak tangannya, dia menelusuri garis-garis angan orang itu dengan jarinya sambil tersenyum-senyum.
Bisnisman ini makin ingin tahu tentang ramalannya dan bertanya, ” Bagaimana Ajahn Chah ?
Gimana masa depan saya ? Gimana ?”
Ajahn Chah menutup tangannya dan berkata, ” Well, garis tanganmu berbengkok-bengkok menunjukkan … “
Ajahn Chah berhenti sejenak … dan berkata, ” Masa depanmu tidak menentu. Jika kamu banyak berbuat baik dan ikhlas, masa depanmu pasti baik, dan sebaliknya.”

Sambil tersenyum Ajahn Chah berjalan keluar ruangan.