Arsip untuk Oktober, 2007

h1

Pesan dari semangkuk mie

Oktober 31, 2007

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata, “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

“Ya, tapi.. aku tak membawa uang”, jawab Ana dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, si pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

” Ada apa nona?”, tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu”, jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi. Tapi.. ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, segera mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Dan kau.. seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri”, katanya kepada sang pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata, “Nona, mengapa kau berpikir seperti itu?
Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya?
Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tsb.

“Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya”.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.
Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Ana, kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

RENUNGAN:
Bagaimana pun kita tidak boleh melupakan jasa orang tua kita.
Seringkali kita menganggap pengorbanan mereka merupakan suatu proses alami yang biasa saja. Tetapi kasih dan kepedulian orang tua adalah hadiah paling berharga yang diberikan kepada kita sejak kita lahir.
Pikirkanlah hal itu?
Apakah kita mau menghargai pengorbanan tanpa syarat dari orang tua kita?

h1

Siapkan biskuit, permen, susu kotak – STOP BERI UANG!

Oktober 31, 2007

Kita membuang Rp 1,5 milyar receh setiap hari!

Sadarkah Anda, bahwa kita, penduduk Jakarta, setiap harinya membuang
uang receh hingga mencapai 10 digit setiap harinya, ke jalanan. Mari
kita berhitung. Jumlah anak jalanan di Jabodetabek saat ini berdasarkan data
terakhir dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencapai
angka 75.000. Pendapatan mereka seharinya bisa mencapai Rp 20.000 – Rp
30.000.
Bila kita ambil Rp 20.000 dikalikan 75.000 anak, berarti kita membuang
uang receh (cepek, gopek, seceng) sebesar 1.500.000.000 alias 1,5 milyar
per hari!

Kita membuat mereka betah di jalan!

Perhitungan matematis di atas menimbulkan satu pertanyaan ironik yang
besar. Bisa jadi kitalah yang membuat anak-anak itu betah berada di
jalan.
Dengan mengamen, mengemis, menyapukan kemoceng di atas dashboard mobil,
atau menyodorkan amplop sumbangan – satu anak jalanan usia SD bisa
memiliki penghasilan yang beda tipis dengan lulusan diploma. Begitu
mudah bagi mereka. Tanpa perlu capek-capek sekolah, susah-susah melamar kerja, toh
hasilnya hampir sama.

Jajan, main dingdong, dan setoran!

Tanpa maksud menggurui, Sahabat Anak sepakat dengan salah satu program
UNICEF, yakni berhenti memberi uang kepada anak-anak jalanan. Dari
sekian penelitian yang dilakukan sejumlah LSM, uang yang diperoleh
anak-anak marjinal ini, sebagian besar tidak mendukung peningkatan kesejahteraan
mereka. Jajan, ada di peringkat pertama; main dingdong atau permainan
elektronik lainnya, menjadi pilihan kedua; terakhir, setoran ke orang
tua atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan. Jadi,
bocah-bocah berpenampilan kumuh ini pun tetap miskin, tetap terancam putus sekolah,
dan tetap berkeliaran di jalan.

Siapkan biskuit, permen, susu kotak!

Setelah memahami penjelasan di atas, keputusan dikembalikan kepada Anda
semua. Mari, menjadi sahabat anak yang tidak memanjakan, tapi melakukan
tindakan serta bantuan yang langsung bisa mereka nikmati. Sebagai
pengganti uang receh, berikan mereka nutrisi bergizi atau barang layak
pakai.
Mulai sekarang, sediakan dalam tas atau mobil Anda: biskuit, permen,
buah, susu kotak/botol, atau barang-barang bermanfaat lainnya – yang langsung
bisa diberikan saat tangan-tangan kecil itu menengadah di dekat Anda.

menjadi seorang SAHABAT yang menaruh cinta kasih setiap waktu…

PS: Saya mah setujuh bangeeeeeeeeeeet!

h1

Si Lugu

Oktober 29, 2007


Si Lugu kau kini merasa
Dalam sakit karena cinta
Dalam sepi karena harap
Dalam senja yang gemerlap

Si Lugu kemana kau bawa hati
Demi cinta yang kau cari
Demi harap tanpa gundah
Demi esok pagi yang cerah