Arsip untuk Juli, 2007

h1

RAHASIA SI UNTUNG

Juli 19, 2007

Anda pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan
Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja
keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama
asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah
bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal
berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah
itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung,
dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris,
mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial.
Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan
sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti
main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata
memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman
memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang
dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan
waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka
dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya,
karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan
yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran
ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar.
Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain
yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda
menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan
pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman
menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka
lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan
bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata
orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka
terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap
interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan
jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga
tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di
New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di
depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di
sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan
dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir
lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet,
salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan
jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di
sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan
Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet,
berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun
kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg.
Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika.
Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata
sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi)
daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat
membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali
sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit
kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan.
Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi
mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang
tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan
makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana?
Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu?
Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara
yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini
subtektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau
pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai
bentuk, misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg
an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering
memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok
tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang
lagi.
- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain
ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami.
Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited
setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian
saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa
hal lain.
- Isyarat dari luar. “Follow the omen” demikian kalau kata Paulo Coelho di
buku the Alchemist. Baca “isyarat2″ dari luar yang datang pada Anda. Saya
juga beberapa kali mengalami. Misalnya pernah saja tiba2 di TV saya kok
merasa sering melihat iklan suatu perusahaan tertentu, kemudian ketemu
teman kok membicarakan perusahaan itu lagi, di jalan melihat iklan
perusahaan tadi. Belakangan perusahaan tadi ternyata menjadi klien saya.
Jadi kalau akhir2 ini Anda sering berpapasan dengan Mercedez S Class dua
pintu, barangkali itu suatu pertanda.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu
berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap
mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan
akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda
lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal,
bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme
dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan
merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya.
Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang
pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok
bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang
dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2
perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah:
“untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet
duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka
dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi
keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck
School .
Saya yakin Anda semua sudah beruntung dan tidak perlu bersekolah di Luck
School. Tapi ada baiknya mengintip sedikit, latihan2 apa yang diberikan di
Luck School .

Salah satu yang menonjol dari orang sial adalah betapa mereka sering
mengabaikan hal-hal yang positif di sekitar mereka. Misalnya salah satu
pasien Prof Wiseman, adalah seorang wanita single parent, yang sangat
sial.
Ketika diminta menceritakan hidupnya akan segera nyerocos menceritakan
setiap detil kesialannya. Betapa sulitnya memperoleh pasangan, sudah
ketemu pria yang cocok tapi si pria jatuh dari motor, di lain kesempatan si pria
jatuh dan patah hidungnya, sudah hampir menikah, gereja nya terbakar, dan
sebagainya. Pokoknya benar2 sial. Padahal, dalam setiap interview, si
wanita datang membawa 2 orang anak yang sangat lucu2 dan sehat. Sebagian
besar dari kita akan merasa sangat beruntung memiliki 2 anak tadi. Tapi
tidak bagi si wanita sial tadi. Karena 2 anak lucu tadi tidak ada dalam
pikiran si wanita, yang otaknya sudah penuh dengan “kesialan”.

Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan
membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, wanita tadi
harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka
dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi
begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan
semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan. Dan
ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, semakin
mereka akan sadari betapa mereka beruntung. Dan sesuai prinsip “law of
attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka
semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa
beruntung. Termasuk Anda.
Siap mulai menjadi si Untung? First Open your Mind and Enjoy your life.

h1

Keseimbangan Hidup (Melaksanakan Jalan Tengah)

Juli 8, 2007

dari Taman_budicipta

Keseimbangan Hidup (Melaksanakan Jalan Tengah) Pada pelaksanaan Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari terkadang bagi kita adalah sebuah beban tersendiri. Meskipun tidak jarang kita mengakui bahwa mendengarkan indahnya Dhamma bagaikan air segar yang menyejukkan hati. Mendengarkan kebenaran-kebenaran yang disampaikan orang lain adalah sebuah hiburan tersendiri bagi batin kita. Dan tidak jarang banyak dari kita merasa terhibur ketika mendengarnya. Tapi tidak jarang pula hanya sedikit yang kemudian mendapat manfaat darinya. Dalam pelaksanaan sila misalnya. Tidak jarang kita merasa melaksanakan sila itu sangatlah sulit. Bahkan terkadang kita merasakannya sebagai sebuah beban dan celakanya kemudian putus asa dan malas untuk melatihnya. Dan akhirnya sama sekali dilupakan. Benar demikian bukan? Padahal pelaksanaan sila sudah dapat dimengerti sebagai sebuah hal yang sangat baik yang dikatakan oleh Sang Buddha sebagai salah satu jalan untuk terlepas dari penderitaan. Mengapa ini bisa terjadi? Kasus yang berbeda dalam pelaksanaan sila dapat kita temui pada orang yang menganggap sila sebagai sebuah aturan atau hukum yang tidak boleh dilanggar. Orang seperti ini kemudian akan merasa bahwa dirinya tidak bisa mengikuti pelaksanaan sila itu. Padahal dia sangat besar kemauannya untuk menjalankan sila dan terbebas dari penderitaan. Tetapi apa yang terjadi? Orang seperti ini akan semakin menderita ketika tidak bisa menjalankan sila sesuai standar yang sudah dibentuk dalam pikirannya. Apakah kemudian kita katakan bahwa apa yang diajarkan Sang Buddha salah? Melihat contoh kasus diatas kita coba pahami lagi apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut? Kita coba mengingat kembali peristiwa yang dialami oleh Sang Buddha ketika melaksanakan pertapaan tanpa makan selama berminggu-minggu. Ketika itu Beliau sudah hampir mati karena tidak makan. Tetapi kemudian Beliau sadar ketika mendengarkan seorang wanita bernyanyi tentang dawai yang akan putus senarnya apabila ditarik terlalu kencang dan akan sumbang suaranya ketika ditarik terlalu lemah. Saat itulah Beliau sadar bahwa segala sesuatu tidak bisa dipaksakan melebihi kondisi alamiahnya. Tubuh butuh makanan untuk menjaga kelangsungan hidup. Oleh karena itulah maka Beliau akhirnya mau makan dan meninggalkan tapa ekstrimnya sesaat Beliau menyadarinya. Begitulah seharusnya yang kita lakukan dalam keseharian dalam usaha membebaskan diri kita dari belenggu penderitaan yang kita buat sendiri. Pada dasarnya kemampuan atau kondisi orang berbeda satu sama lainnya. Dan kalau kita mau mengakui bahwa hukum kamma bekerja pada semua orang maka apa yang diperbuat setiap orang adalah berbeda. Dan dengan demikian maka kemampuan dan kondisi yang akan diterima setiap orang juga akan berbeda satu sama lainnya. Dan oleh karena itulah maka standar kemampuan seseorang dan pengertian seseorang akan berbeda pula satu sama lainnya. Dengan dasar ini kita harus bisa mengenali kondisi kita masing-masing. Sampai dimana batas kemampuan kita dalam melaksanakan sesuatu. Seperti misalnya dalam pelaksanaan Sila, Dana, Metta, Samadhi, dll, kita sebaiknya meneliti dahulu sampai sebatas mana kekuatan senar dawai kita sesuai karma masing-masing. Kenalilah kelemahan–kelemahan dan kekuatan-kekuatan kita untuk kemudian kita manfaatkan demi kebaikan diri sendiri. Dalam melaksanakan Dhamma sebaiknya kita bisa menimbang-nimbang kemampuan diri akibat kelemahan situasi, kondisi, lingkungan, dll. Setelah itu kemudian tentukan standar bagi diri Anda sendiri. Buatlah kompromi dengan kamma Anda sendiri. Dan jalanilah dalam penerimaan sepenuhnya. Dengan demikian maka Anda akan merasa nyaman dengan diri Anda sendiri, dengan kehidupan Anda sendiri. Setelah Anda bisa menjalankan standar Anda pertama dengan mudah atau sudah menjadi suatu kebiasaan, maka mulailah mempelajari apa yang bisa Anda tingkatkan dalam pelaksanaan Dhamma dalam diri Anda. Tingkatkan kondisi dan perbaiki kelemahan Anda secara sedikit demi sedikit. Ini persis seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha bahwa melakukan perbuatan baik secara terus menerus ibarat setetes air yang secara terus menerus akan membuat tempat air menjadi penuh. Berarti ketika kita mulai memperbaiki kelemahan–kelemahan kondisi dan situasi diri kita maka dengan demikian kita sudah berbuat kebaikan untuk diri sendiri. Cara ini sebenarnya adalah mengurangi nafsu keinginan secara tidak langsung. Ketika kita memiliki keinginan yang sangat besar, dan kemampuan serta kondisi kita tidak memungkinkan maka akan timbul sebuah penderitaan. Ini muncul akibat kita tidak bisa mewujudkan besarnya keinginan kita sesuai yang kita bentuk dalam pikiran. Dan kita selalu berlaku bodoh untuk tidak mau menyadari bahwa yang kita bentuk dalam pikiran ini bisa dirubah oleh diri sendiri. Jadi sebenarnya oleh diri sendiri sebuah perbuatan itu dilakukan dan oleh diri sendiri hasilnya diterima. Oleh karena itulah maka mulai saat ini sadarilah bahwa apapun yang ingin kita lakukan seharusnya dikompromikan dengan kemampuan dan kondisi dengan tidak lupa mengetahui kelemahan-kelemahan yang sebelumnya dikompromikan agar suara senar kehidupan kita tidak selalu sumbang dan berbunyi sangat indah. Alangkah bahagianya apabila semua suara dengung dalam kehidupan kita terdengar indah terutama oleh diri sendiri? Oleh karena itu, janganlah menilai apa yang dilakukan oleh orang lain karena mereka memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Dan mereka tahu apa yang dibutuhkannya. Dan jangan pula mempedulikan penilaian orang lain, karena mereka tidak pernah tahu apa yang Anda butuhkan. Oleh karena itulah apabila kita melihat kesalahan yang dibuat oleh orang lain dan kita ketahui bahwa itu salah maka sebaiknya dengan kasih sayang dan penuh pengertian karena menyadari kondisinya, kita seharusnya membantu mempersiapkan kondisi yang mendukung dan memberikan dana pengertian yang sesuai dengan kondisinya sendiri dan bukan kondisi kita. Lebih harus dihindari perbuatan mencela apa yang diperbuat orang lain. Karena perbuatan mencela adalah perbuatan orang yang tidak mengenali kekurangannya sendiri. Oleh karena itulah maka ingatlah selalu untuk menjaga keseimbangan diri antara kemampuan atau kondisi diri dengan kondisi situasi atau lingkungan. Dan ingatlah untuk memperlakukan lingkungan Anda dengan menjaga keseimbangan bagi orang-orang dilingkungan Anda sesuai kondisi masing-masing orang tersebut. Disini perlu ada sebuah pemahaman tentang kondisi orang tersebut. Semoga dengan usaha seperti ini kita semua bisa membuat diri sendiri berbahagia dan dengan usaha seperti ini akan tercipta keharmonisan dalam lingkungan kita. Dan semoga semua makhluk berbahagia karenanya. penulis: sang atta

h1

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Juli 7, 2007

butterfly.JPG

Dalam kehidupan Kita sehari-Hari, Kita percaya bahwa kebohongan akan
Membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
Ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna
Sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka Mata Kita Dan
Terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong
Mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
Anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
Saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
Nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
Waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu
Berharap dari ikan hasil pancingan, is bisa memberikan sedikit makanan
Bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
Yang segar Dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
Ibu duduk disamping aku Dan memakan sisa daging ikan yang masih
Menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
Makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
Menggunakan sumpitku Dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan
Cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan
Ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang Dan
Kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api
Untuk ditempel, Dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang
Untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun
Dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil Dan
Dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku
Berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
Kerja.” Ibu tersenyum Dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak
Capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
Pergi ujian. Ketika Hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
Ibu yang tegar Dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
Beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
Selesai. Ibu dengan segera menyambutku Dan menuangkan teh yang sudah
Disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental
Tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
Ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak
Haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
Sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
Dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga Kita
Pun semakin susah Dan susah. Tiada Hari tanpa penderitaan. Melihat
Kondisi keluarga yang semakin parah, Ada seorang paman yang baik hati
Yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
Maupun masalah kecil. Tetangga yang Ada di sebelah rumah melihat
Kehidupan Kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
Menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
Nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku Dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah Dan
Bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
Mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
Sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku Dan abangku yang
Bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
Memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
Tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya
Punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah Lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 Dan kemudian
Memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
Berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
Di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
Membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
Hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku
Tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
Lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
Seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
Ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
Setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
Dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
Terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas
Betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat
Lemah Dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air
Mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
Ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “jangan menangis anakku,Aku
Tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
Menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! “
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon
ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita
untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita
yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk
meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah
dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan
pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas
apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di
samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita
renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di
kemudian hari.