Arsip untuk Mei, 2007

h1

Tubuh

Mei 14, 2007

Sebagaimana, tubuh ini yang ditunjang oleh makanan, tergantung padanya dan tidak dapat hidup tanpanya, demikian pula kelima rintangan batin ditunjang oleh makanan mereka, tergantung padanya, dan tidak dapat hidup tanpanya.

Makanan apakah yang menimbulkan nafsu keinginan atau mengembangkan nafsu keinginan yang telah ada? Tak lain adalah perhatian yang salah pada hal-hal yang memikat hati.

Dan makanan apakah yang menimbulkan kedengkian atau mengembangkan kedengkian yang telah ada? Tak lain adalah perhatian yang salah pada hal-hal yang menjijikkan.

Dan makanan apakah yang menimbulkan kemalasan atau mengembangkan kemalasan yang telah ada? Tak lain adalah perhatian yang salah pada rasa sesal, kantuk, kelesuan, kekenyangan, dan kemalasan berpikir.

Dan makanan apakah yang menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran atau mengembangkan kecemasan dan kekhawatiran yang telah ada? Tak lain adalah perhatian yang salah pada kejengkelan.

Dan makanan apakah yang menimbulkan keragu-raguan atau mengembangkan keragu-raguan yang telah ada? Tak lain adalah perhatian yang salah pada hal-hal yang meragukan dan tidak pasti.

SAMYUTTA NIKAYA

h1

Mei 10, 2007

duo.jpg

Suatu hari Plato bertanya pada gurunya, ‘Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?’

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana.

Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.

Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap

paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong,

tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).

Sebenarnya aku telah menemukan

yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.

Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting – ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya

“Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,

“Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana.

Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh)

dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja.

Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang

paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.

Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini.

Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya“

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan.

Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali.

Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta.

Adalah proses mendapatkan kesempatan,

ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya,

Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan

perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.