Sore itu saya lihat rekan satu kos saya sedikit murung di beranda depan, tempat kami biasa bersantai. Tempat itu memang tempat kami mencurahkan segala mimpi2 kami, mulai dari masalah kerjaan, masa depan, peluang2 usaha hingga masalah yang tak jauh dari dunia pria lajang seperti kami, yakni wanita
.
Tapi sore ini memang berbeda, sudah sekian menit lamanya saya dan seorang rekan lainnya berusaha memancing “keributan” agar ia turut nimbrung dengan obrolan kami. Walhasil tetap saja tak mampu membuat pikiran2 kreatifnya mencuat agar obrolan sore itu menjadi seperti sore-sore yang sebelumnya, sore penuh canda dan tawa. Dengan rasa penasaran yang besar, akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya pada dirinya. Ada gerangan apa yang membuat ia sore itu begitu sepi.
Patah demi patah kata akhirnya muncullah sejumlah cerita miris yang menggugah hatinya semenjak pagi tadi di tempat kerja. Sejumlah cerita yang membuat ia sadar betapa lamanya sudah ia tlah lupa ‘tuk menyatakan sedikit syukur.
Kemudian ia bertutur. Coba tanyakan pada Sarimin, seorang office boy, honorer pula, yang selama ini begitu rajin, tak pernah sedikit pun ia mengeluh dikala berkumpul bersama rekan sekerjanya, apapun itu yang dimintakan darinya, dikerjakannya dengan penuh semangat dan cekatan, tapi ketahuilah satu hal, awal ia bekerja gajinya tak pernah lebih dari 250 ribu rupiah, dan setelah sekian lamanya, ia baru mampu merasakan sedikit banyak kebahagiaan dengan gajinya kini yang 350 ribu rupiah per bulan.
Bertanya tentang keluarga Sarimin, ia seorang bapak dengan seorang anak dan seorang istri tercinta. Bertahun-tahun sang istri begitu setia padanya walau kehidupan mereka begitu sangat minim dengan gaji kecil. Kesetiaan sang istri benar-benar tak tergoyahkan hingga akhirnya dibawa keliang kubur istri tercinta.
Lain cerita dengan, katakanlah ia bernama “Joko”, seseorang yang terlihat kumal, penuh peluh, di kepalanya masih bertengger helm pekerja proyek PLTU untuk pembangkitan unit baru. Ia baru saja meloncat dari bak mobil pick-up yang berhenti didepan toko swalayan pertama dan satu-satunya di kecamatan ini. Dengan mata berbinar, ia mengambil 2 bungkus coklat yang sedianya hendak diberikan pada sang buah hati di rumah nanti.
Baca koran lokal beberapa hari yang lalu, di salah satu kolomnya, terdapat kisah pak Tulis yang tinggal di pantai Bentar, Probolinggo, seorang mantan nahkoda kapal yang kini menghabiskan waktunya didaratan. Bertanya pada beliau, kenapa ia meninggalkan lautan dengan kapal tercintanya, tak lain hanyalah karena keinginan beliau untuk mendekatkan diri dengan keluarganya yang selama ia menjadi seorang nahkoda, sangat amat jarang sekali bisa berkumpul bersama, walau demi segepok uang yang sungguh langka adanya dalam kondisi ekonomi bangsa seperti saat ini.
Tanyakan pula pada beliau, apa kesehariannya kini?
Beliau kini menjadi seorang penjaga kawasan wisata pantai Bentar dengan gaji tak lebih dari 350 ribu per bulan, jauh dari apa yang pernah ia dapat ketika menjadi seorang nahkoda dulu. Perbandingannya bagai langit dan bumi. Tapi beliau tetap bisa menikmati kehidupannya kini.
Belum lagi cerita2 tentang mereka yang tinggal di pinggiran jalur pantura ini, jalan lintas provinsi yang kini ramai semenjak berdirinya bangunan dengan rangka baja yang menjulang tinggi demi mensuplai mereka yang di kota2 memperoleh penerangan. Mereka tak lain adalah para pemilik dan pekerja di warung ‘lahir batin’ sepuluh ribuan, sebutan yang diberikan oleh seorang teman sebagai tempat prostitusi kelas bawah.
Begitu banyak cerita di negeri ini, jika saja setiap orang dari total 200 juta lebih rakyat Indonesia dibuatkan kisah pribadi masing-masing, atau jika saja setiap kisah di tempatkan dalam blog tersendiri yang bernama, Indonesia-negeri-1001-tanya. Maka mungkin si pengelola web perlu memperbesar kapasitas penyimpanannya demi menampung segudang kisah nasib anak negeri ini.
Tapi ternyata rekan sekos saya tidak bermimpi demikian, ia hanya mengajukan pertanyaan, apa itu arti bersyukur pada mereka semua.
Jangan coba tanyakan apa itu arti bersyukur pada para petinggi di negeri ini. Mereka tak lebih baik dari seorang pendongeng yang berusaha membuai sang anak agar bermimpi lewat kisah-kisah yang diceritakannya, walau padahal sang anak tahu betul, kisah itu tlah berulang kali didengarnya sampai hafal. Kisah yang hingga kini menjadi mimpi2 disiang bolong. Kisah yang telah menutupi kenyataan hidup pahit yang di derita oleh banyak orang di negeri ini.
Jika saja kisah para petinggi itu dibukukan dalam ‘kitab jalan hidup dan jasa baik’ mereka, itu tak lain hanyalah dongeng lama yang di aransemen ulang yang sedikitpun tak merubah makna kelam di baliknya.
Biarkan saja mereka mendongengkan kisah2 mereka yang ‘indah’, tapi kami lebih memilih melihat lembaran kami yang nyata.
Pak Sarimin kini kehidupannya telah semakin mapan, beberapa waktu lalu terjadi pergantian kontraktor untuk pengelolaan OHC (Operator Housing Complex), dan pak Sarimin terpilih menjadi staf bagian gudang, kini gajinya naik 3 kali lipat daripada sebelumnya. Namun rasa syukurnya yang begitu besar dibarengi oleh kesedihannya yang mendalam pula. Bagaimana tidak, ia begitu berharap, kebahagiaan hari ini juga dapat dirasakan oleh sang istri yang setelah sekian lama begitu setia mendampinginya dikala susah dulu.
Sedangkan pak Tulis, masih bisa bersyukur dengan keadaanya yang tidak jauh berubah. Kebahagiaannya adalah, hingga kini ia masih bisa merasakan kehidupan di laut dengan menjadi kru di kapal wisata yang beroperasi di kawasan Bentar, walau pendapatan tambahannya tak lebih dari 50 ribu disaat pengunjung ramai.
Dan terakhir si Joko, ia tetap ceria dengan 2 bungkus coklat di tangan, badan penuh peluh dan kotor, keluar dari toko dan berjalan penuh semangat menuju rumah untuk menemui sang buah hati.
Mereka semua kini telah menjadi bagian dari lembaran hidup kami untuk terus bersyukur.